GADYSA & GELBINA

Makna Kedamaian

In Artikel on September 6, 2013 at 3:33 pm

Kedamaian adalah hal yang sangat dirindukan dan diidam-idamkan oleh setiap orang. Kedamaian itu sendiri sering dijadikan piala bergilir yang diperebutkan dan menjadi bulan-bulanan akibat ketamakan individu atau golongan dalam memenangkannya. Padahal apa yang mereka perebutkan hanyalah nafsu yang bertopengkan kepentingan dalam meraih tujuan sesaat. Mereka lupa bahwa kedamaian adalah sesuatu yang mesti dijaga dan bukan diperlombakan. Terlalu picik untuk mengartisempitkan kedamaian yang telah digariskan oleh Tuhan dalam firman-Nya sebagai absentia belli (tidak adanya perang) semata.

Keadamaian itu bukan terletak pada Ayat-ayat maupun hadis, bukan pula pada Undang-Undang ataupun perjanjian, dan bukan pula terletak pada ada dan tiadanya perang. Melainkan terletak pada diri kita sendiri dalam hal bagaimana memaknai Ayat-ayat, Hadis dan UU tersebut, mensikapi dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu banyak Ayat-ayat, Hadis, dan UU yang kita ketahui, toh pengamalannya tertunda semata-mata oleh nafsu dan kepentingan pribadi yang disebabkan oleh naluri manusia yang selalu merasa kekurangan. Rasa kekurangan akan melahirkan ketamakan dalam mencari kesempurnaan yang mustahil sempurna, sehingga diperlukan aturan-aturan baku yang akan memagari keegoan dan ketamakan tersebut.

Secara harfiyah, kata-kata “Salam, Peace, Shalom, Pax, dan Rahayu” diartikan “Damai”. Namun kata Damai itu sendiri kadang diartikan dengan keselamatan, kesejahteraan, keadaan tenang, persetujuan mengakhiri perang, atau suatu periode dimana sebuah angkatan bersenjata tidak lagi memerangi musuh. Padahal jika kita cermati, justru dari kata Damai itulah lahir semua makna-makna di atas tadi. Orang bisa selamat, sejahtera, tenang, setuju, tidak ada peperangan semua itu semata-mata karena damai. Lantas, apa itu damai atau kedamaian?

Setiap hari kita menyapa atau disapa dengan ungkapan “selamat pagi”, “Assalamualaikum” atau “Shalom alaikhem”. Sangat naïf jika kata-kata Salam dan Shalom diartikan “selamat”. Bagaimana mungkin kita bisa selamat kalau tidak mengetahui cara ataupun jalan menuju keselamatan? Bagaimana mungkin kita dapat langsung sampai pada tujuan tanpa melalui tahapan atau anak tangga yang menggiring kita meraihnya. Cara, jalan, dan anak tangga itulah damai.

Makna kata Salam dari bahasa Arab (darinya terbentuk kata Islam) dan Shalom dari bahasa Ibrani, memiliki arti “Damai” yang bercirikan menerima, dan berserah diri. Dari kata itulah seseorang dikatakan selamat karena mereka menerima dan selalu berserah diri. Dengan kata lain, keselamatan adalah hasil dari kedamaian yang terbentuk oleh sikap menerima dan berserah diri. Kedamaian itu ada pada semua orang, golongan, profesi, ataupun strata. Orang miskin, kaya, pekerja, pengangguran, pencuri, perampok dan lain sebagainya akan merasa damai jika mereka menerima dan berserah diri setelah berikhtiar. Namun sayangnya, pencuri, perampok, bahkan koruptor tidak akan pernah menerima kenyataan diri mereka sebagai pencuri apalagi menyerahkan diri, karena di hati kecil mereka pasti ada perasaan bahwa apa yang mereka kerjakan adalah perbuatan yang salah dan tidak terpuji.

Kata “Damai” juga dapat diartikan dengan kenetralan. Sebagaimana ungkapan Al-Ustadz Prof. Dr. Qurays Sihab, MA ketika penulis menghadiri salah satu ceramah beliau pada tahun 2005 di SIC (Sekolah Indonesia Cairo) bahwa damai adalah sikap netral yang berada di antara perasaan cinta dan benci. Artinya tidak telalu cinta apalagi benci. Sehingga Rasulullah SAW bersabda:

 احبب حبيبك هونا ما عسى أن يكون بغيضك يوما ما، وابغض بغيضك هونا ما عسى أن يكون حبيبك يوما ما (رواه البخارى)

Cintailah kekasihmu yang sedang-sedang saja, boleh jadi suatu hari engkau akan membencinya dan bencilah musuhmu yang sedang-sedang saja karena boleh jadi ia akan menjadi kekasihmu suatu hari kelak” (HR. Bukhari)

Atau:

خير الأمور أوسطها (رواه البيهقى)

Sebaik-baik urusan adalah yang di tengahnya (sedang-sedang saja)” (HR. Al-Baihaqy)

Kedamaian akan tercipta jika setiap individu tidak terlalu cinta atau benci kepada sesuatu atau seseorang. Seorang pria atau wanita tidak akan patah hati manakala ia tidak berlebihan mencintai apalagi membenci. Seorang pedagang atau pengusaha tidak akan berbuat curang jika ia tidak terlalu mencintai harta dan tidak pula membenci saingannya. Suatu Negara akan makmur dan sejahtera manakala pemimpinnya tidak berlebihan mencintai/rakus akan kekuasaan dan rakyatnya pun tidak membenci pemimpin mereka. Dengan demikian, akan terciptalah apa yang dinamakan kedamaian.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,221 other followers

%d bloggers like this: